• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sejarah Meletusnya Gunung Kelud di Kediri, Dari Tahun 1901-2014

sejarah gunung kelud

Sejarah letusan gunung Kelud dikenal sangat mematikan, karena didominasi oleh letusan-letusan eksplosif (ledakan) yang mampu menghasilkan endapan-endapan freatomagmatik, freatik, jatuhan piroklastik dan aliran piroklastik. Catatan menunjukan, sejak tahun 1.300 M, letusan gunung Kelud terjadi pada rentang waktu yang pendek, paling lama adalah 25 tahun. Hal ini menjadikan Kelud dilabeli sebagai gunung berapi yang berbahaya bagi manusia.


Sejarah Meletusnya Gunung Kelud di Kediri, Dari Tahun 1901-2014

Inilah gunung Kelud, meskipun tidak terlalu tinggi, hanya 1.731 mdpl, namun para ahli geologi dan sejarah setuju bahwa letusan gunung Kelud bisa sangat mematikan bagi manusia. Seberapa mematikan?. Kamu dapat mengetahuinya lewat ulasan yang telah saya siapkan di bawah.

Letusan Pada Tahun 1901

Pada tanggal 22 - 23 Mei 1901, letusan terjadi pada malam hari, dalam waktu singkat, sekitar pukul 03:00 dini hari, aktifitasnya meningkat seketika. Kawasan Kediri tiba-tiba diserang awan panas, bunyi letusan terdengar hingga Kabupaten Pekalongan, hujan abu terlempar jauh, sampai di Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Saat itu, banyak korban jiwa yang berjatuhan, namun tidak ada data pasti tentang angkanya.

Letusan Pada Tahun 1919

Pada tanggal 20 Mei 1919, gunung Kelud kembali meletus, kali ini merupakan letusannya yang paling dahsyat di abad ke-20. Dentumannya terdengar hingga pulau Kalimantan, hujan abu sampai wilayah pulau Bali, hujan batu panas yang lebat melanda kawasan di sekitarnya, kota Blitar harus menanggung kerusakan parah, atap-atap rumah mengalami kerusakan hebat. Setidaknya, letusan ini menewaskan 5.160 korban jiwa.

Letusan Gunung Kelud Pada Tahun 1951

Pada tanggal 31 Agustus 1951, terjadi sekitar pukul 06:15. Dentuman keras terdengar sebanyak 4 kali, batu yang rata-rata seukuran kepalan tangan orang dewasa menghujani sebagian kawasan Margomulyo, mengakibatkan kerusakan di kawasan tersebut. Hujan abu yang terjadi sekitar satu jam berhasil mendarat hingga Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Setidaknya, letusan ini mengakibatkan 7 orang meninggal dan 157 orang mengalami luka-luka.

Letusan Pada Tahun 1966

Pada tanggal 26 April 1966, letusan terjadi pada pukul 20:15. Letusan ini mengakibatkan lahar panas mengaliri sejumlah sungai yang berada di lereng gunung, menyebabkan 210 orang meninggal dunia.

Setelah letusan ini, pemerintah segera membangun Terowongan Ampera di sisi barat daya kawah. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko bahaya aliran lahar panas.

Letusan Pada Tahun 1990

Pada tanggal 10 Februari 1990, terjadi sebuah letusan yang tidak kalah hebat dibanding letusan-letusan sebelumnya, awan panas melanda kawasan di sekitarnya, radius sekitar 5km dari kawah, meskipun daerah yang rusak tidak terlalu luas, namun hujan abu bertebaran lebih luas, merusakan 500 rumah dan mengakibatkan 32 korban jiwa.

Tahun 2007

Sejak tanggal 30 Oktober 2007, aktifitas vulkanik gunung Kelud kembali meningkat, ditandai dengan gempa vulkanik dasar dan meningkatnya suhu air danau kawah. Bila gejala letusan hanya 40 derajat Celsius. Maka saat itu, air danau kawah di gunung Kelud mencapai 74 derajat Celsius. Jauh di atas normal, menyebabkan kerusakan pada alat pengukur suhu milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Pada tanggal 5 November 2007, kubah lava mulai muncul dan terus tumbuh di kawah Kelud, lebarnya mencapai 100 meter. Karena bukan letusan eksplosif, letusan ini mengakibatkan munculnya gejala unik dalam sejarah letusan gunung Kelud, yakni kehadiran asap tebal putih yang keluar dari tengah danau kawah.

Tahun 2014, Letusan Kelud Terdahsyat Sepanjang Sejarah

Pada tanggal 13 Februari 2014, gunung Kelud kembali meletus dengan letusan yang paling dahsyat sepanjang sejarahnya. Lontaran material vulkanik mencapai radius 17 km dari kawah dan lontaran abu menyebar hingga kawasan Jawa Barat menggambarkan betapa besarnya ledakan magma kala itu. Akibat tingginya intensitas abu, sejumlah bandara terpaksa harus ditutup dan diberhentikan beroperasi.

Umar Rosyadi, ketua tim pemantau aktifitas gunung Kelud dari PVMBG Bandung, mengatakan bahwa daya ledak dan dampak letusan ini melebihi gunung Merapi dan gunung Sinabung.

Baca juga;


Demikian merupakan informasi tentang sejarah meletusnya gunung Kelud di Kediri. Pengetahuan tentang sejarah gunung merupakan bagian dari cara kita untuk mengenal alam, sebelum benar-benar bisa mencintainya. Salam lestari.
Share:

Jalur Pendakian Gunung Sindoro Via Tambi, Kaliangkrik

pendakian gunung sindoro via kaliangkrik

Gunung Sindoro merupakan gunung berapi aktif bertipe Strato, ketinggiannya mencapai 1.405 mdpl. Berdiri megah di antara perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Berjarak tidak jauh dari saudara kembarnya, gunung Sumbing, hanya dipisahkan oleh jalan raya yang menghubungkan kota Magelang dan Kabupaten Wonosobo.

Selain disebut Sindoro, gunung ini juga memiliki beberapa nama lain, di antaranya adalah Sundoro dan Sindara. Salah satu keunikan gunung Sindoro dibanding gunung lainnya adalah kawasan puncaknya yang sangat luas, beberapa kali lebih luas dari lapangan stadion GBK.

Hingga saat ini, gunung Sindoro masih menjadi salah satu biduan di kalangan para pendaki gunung, banyak di antara mereka yang memilih gunung Sindoro sebagai tempat untuk menghabiskan masa liburan. Saat menjamahinya, kamu dapat menikmati bentangan alam yang indah nan luas, membuat beban berat kehidupan terasa sedikit ringan.


Jalur Pendakian Gunung Sindoro Via Tambi

Jalur Tambi merupakan jalur tercepat menuju puncak gunung Sindoro, rata-rata perjalanan dilakukan selama 6 jam. Meski demikian, tidak banyak pendaki yang memilihnya saat naik, karena track-nya yang menanjak dan terjal, namun, untuk mempersingkat perjalanan, sebagian pendaki menggunakannya sebagai jalur untuk menuruni gunung.

Saat memilih jalur Tambi, kamu akan melintasi punggungan gunung di sebelah Utara, pintu masuknya sendiri berada di desa Sigedang, Kecamatan Tambi, Kabupaten Wonosobo. Oleh karenanya, jalur Tambi juga dikenal sebagai jalur Sigedang atau jalur Sikatok.

Rute Perjalanan Menuju Basecamp Tambi

Dari kota mana pun, tujuan awalmu adalah terminal Mendolo atau terminal Sawangan, dari sana, naiklah bus jurusan terminal Dieng dan turun di pertigaan Rejosari arah ke Tambi.

Basecamp Tambi

Basecamp Tambi berada di Desa Sigedang, Kecamatan Tambi, Kabupaten Wonosobo, lebih tepatnya berada di rumah seorang juru kunci bernama Mbah Amin. Sesampainya di sini, kamu bisa istirahat, mengecek perbekalan dan membayar tiket masuk kawasan gunung Sindoro, senilai Rp. 5.000 per satu orang.

Perjalanan dimulai.....

Basecamp - Pos 1 (1 Jam)

Beranjak dari basecamp, kita akan mendapatkan ucapan selamat datang dari pemandangan kebun teh yang luas, hijau dan indah. Tidak lupa, udara segar pegunungan mulai menyapa wajah. Medan berupa tanah merah dan track terasa masih sangat landai. Setelah berjalan sekitar 1 jam, maka kamu akan sampai di pos 1.

Pos 1 merupakan sebidang tanah yang luas, di sana terdapat sebuah bangunan terbuka, namun memiliki atap, bisa kamu manfaatkan untuk berteduh. Pemandangan di pos 1 adalah bentangan kebun teh yang sangat memanjakan mata.


Pos 1 - Pos 2 (30 Menit)

Tidak banyak berubah, pemandangan di sepanjang perjalanan menuju pos 2 masih didominasi oleh perkebunan teh. Begitupun dengan medan dan tingkat kemiringan track, masih berupa tanah dan masih landai. Perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Keadaan pos 2 tidak berbeda jauh dengan pos 1.


Pos 2 - Pos 3 (1 Jam)

Selepas pos 2, track mulai menanjak, perlahan dengan pasti, vegetasi pun semakin rapat, pohon-pohon besar mulai menampakan diri, menyadarkan bahwa kita sedang memasuki hutan gunung Sindoro. Tetap jaga etika, perilaku dan perkataan. Perjalanan menuju pos 3 memakan waktu sekitar 1 jam.

Kondisi pos 3 merupakan sebidang tanah yang cukup luas, mengingat puncak masih jauh, pos 3 bukanlah tempat ideal untuk mendirikan tenda, meskipun sebagian kecil pendaki ada yang mendirikan tenda di pos 3 ini.


Pos 3 - Jeblugan Alit/Watu Susu (90 Menit)

Setelah melewati pos 3, pemandangan kembali terbuka, menampilkan pemandangan alam yang indah, luas dan megah, track semakin sadis dan terjal, medan berupa tanah padat bercampur bebatuan. Jika kita amati, di perjalanan menuju Watu Susu, kita dapat melihat pohon Cantigi yang bisa dikosumsi dalam keadaan survival.

Baca juga : panduan bertahan hidup saat tersesat di gunung, membacanya 5 menit, kelak dapat menyelamatkan nyawamu

Perjalanan menuju Watu Susu membutuhkan waktu sekitar 90 Menit. Watu Susu sendiri merupakan area yang terbuka, di sana kita dapat melihat sebuah tebing yang bernama Tebing Jeblugan Alit.


Watu Susu - Puncak Segoro Wedi (2 Jam)

Beranjak dari kemegahan pemandangan di Watu Susu, track semakin terjal, medan berupa tanah padat bercampur bebatuan dan kerikil, di tengah perjalanan, kita akan melewati Sabana atau Alun-Alun, sebuah padang rumput yang sangat luas, di sinilah tempat ideal untuk mendirikan tenda.

Selanjutnya, 10 menit dari Sabana, kamu akan melewati Pasar Setan yang berlokasi berdekatan dengan makam Jogo Negoro. Sedangkan, dari Pasar Setan, dengan melintasi jalanan yang menanjak dan berbatu, kita dapat melanjutkan perjalanan menuju puncak dengan jarak tempuh sekitar 20 Menit.


Puncak Gunung Sindoro

Sesampainya di puncak, kamu akan disuguhi oleh pemandangan alam yang menakjubkan, berupa hamparan sabana yang luas, gemulan awan yang sangat memukau dan gugusan beberapa gunung yang megah, termasuk di antaranya adalah gunung Sumbing, gunung Merbabu, gunung Merapi dan samar-samar terlihat juga gugusan gunung Slamet.

Estimasi Waktu Pendakian Gunung Sindoro Via Tambi

Basecamp - Pos 1 : 1 Jam
Pos 1 - Pos 2 : 30 Menit
Pos 2 - Pos 3 : 1 Jam
Pos 3 - Watu Susu : 90 Menit
Watu Susu - Puncak : 2 Jam

Tips Pendakian Gunung Sindoro Via Tambi

1. Karena tidak terdapat sumber air sepanjang perjalanan, sebaiknya kamu menyiapkan perbekalan air sebaik mungkin

2. Waktu terbaik untuk melakukan pendakian adalah beberapa hari selepas musim hujan, pergantian ke musim kemarau

3. Jumlah rombongan yang ideal adalah 6 - 8 orang, bila kamu melakukannya sendirian, pastikan bahwa itu bukan pendakian pertamamu di gunung Sindoro

4. Melakukan persiapan fisik, melengkapi logistik dan perlengkapan pendakian

5. Utamakan keselamatan, bila kondisi tidak memungkinkan, jangan memaksakan ego untuk sampai di puncak

Misteri Gunung Sindoro

(Sebaiknya dibaca setelah usai melakukan pendakian), untuk mengetahui berbagai macam misteri yang tersimpan di gunung Sindoro, kamu dapat membaca 9 gunung Sindoro.

Demikian adalah informasi jalur pendakian gunung Sindoro via Tambi yang bisa saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat.
Share:

Sejarah Gunung Raung Dalam 5 Abad Terakhir

sejarah gunung raung yang mengerikan

Gunung Raung, memiliki ketinggian 3.332 mdpl, merupakan bagian dalam serangkaian pegunungan Ijen yang terdiri dari beberapa gunung, termasuk di dalamnya adalah gunung Suket (2.950mdpl), gunung Pendil (2.338), gunung Merapi (2.800), gunung Rante (2.664), gunung Raung, gunung Remuk (2.092) dan kawasan Kawah Ijen.

Gunung Raung memiliki keindahan alam yang unik, saat menjamahi puncaknya, kamu dapat melihat sebuah kaldera yang kedalamannya mencapai 500 meter, yang sering mengeluarkan asap dan menghembuskan api. Selain itu, pemandangan lebih mengagumkan saat cuaca sedang cerah, kamu dapat melihat beberapa puncak gunung lain yang mengelilinginya dan hamparan kota Bali dari ketinggian.

Selain indah, gunung Raung juga dikenal sebagai gunung tua yang memiliki berbagai misteri di dalamnya dan menyimpan sejarah yang sangat panjang. Bila kamu ingin mengetahui berbagai macam misteri gunung Raung, sebaiknya kamu membaca 5 misteri gunung Raung di Banyuwangi. Namun, jika kamu ingin mengetahui tentang sejarahnya, maka bacalah tulisan ini sampai selesai.


Sejarah Gunung Raung Dalam 5 Abad Terakhir

Asal-Usul Nama Gunung Raung

Saat berada di puncak gunung Raung, tubuhmu akan dihentak oleh anging yang sangat kencang, angin itu bagaikan singa yang sedang meraung-raung. Jika pijakanmu kurang kokoh, angin yang sedang meraung tersebut dapat membuat tubuhmu gontai dan jatuh masuk ke dalam kawah. Oleh sebab angin kecang tersebut, maka gunung yang terletak di ujung timur pulau Jawa ini disebut gunung Raung.

Sejarah Letusan Gunung Raung yang Mengerikan

Pos Pemantau Gunung Api Raung yang terletak di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon, mencatat bahwa pada tahun 1586 adalah letusan gunung Raung yang pertama kalinya. Catatan menyebutkan bahwa letusan ini terjadi sangat hebat, memakan korban jiwa yang tidak sedikit dan meluluh lantahkan kawasan yang berada di sekitarnya.

Berselang sebelas tahun dari letusan pertama, yakni pada tahun 1597, gunung Raung kembali mengalami letusan dahsyat, tidak berbeda jauh, letusan ini juga mengakibatkan banyak orang harus meregang nyawa dan merusak beberapa desa yang terletak di sekitarnya.

Lagi-lagi, pada tahun 1638, seolah gunung Raung kembali mengamuk, letusan dahsyat kembali terjadi. Kali ini, letusannya mengakibatkan banjir dan mengalirkan lahar panas ke beberapa daerah di sekitarnya. Beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi merasakan langsung penderitaan yang disebabkan letusan gunung Raung kala itu.

Tahun 1730 merupakan letusan gunung Raung yang paling mengerikan, mengakibatkan hujan lahar dan abu di beberapa desa. Kawasan yang terkena dampaknya lebih luas dibanding letusan-letusan sebelumnya.

Sejarah kelam terus berlanjut, aktifitas gunung Raung terjadi dalam kurun waktu yang panjang, yakni pada tahun 1800 hingga 1808, akhirnya letusan terjadi di akhir kurun tersebut. Untungnya, kala itu tidak ada satu pun korban jiwa.

Tahun 1812 - 1814, seakan tidak mau tenang, gunung Raung kembali memperlihatkan aktivitas vulkaniknya, pada rentang waktu tersebut, gunung Raung sering mengeluarkan suara gemuruh dan mengakibatkan hujan abu vulkanik yang lebat.

Tanggal 12 - 14 April 1815, aktivitasnya meningkat, menyemburkan abu ke kawasan di sekitarnya, di antaranya adalah Situbondo, Besuki dan Probolinggo.

Tahun 1859, setelah tenang selama 44 tahun, gunung Raung kembali mengancam masyarakat sekitarnya, aktivitasnya kembali meningkat beberapa saat, hingga akhirnya kembali kondusif.

Tanggal 6 Juni 1864, gunung Raung mengeluarkan suara gemuruh dan membuat siang hari di tanggal tersebut menjadi gelap gulita.

Tahun 1881, 1885, 1890 dan 1896, gunung Raung mengalami peningkatan aktivitas vulkanik, beberapa gejala terjadi pada tahun-tahun tersebut, di antaranya adalah Paroksisma, mengeluarkan suara gemuruh, hujan abu di kawasan Banyuwangi dan terjadi guncangan di kawasan Situbondo.

Tanggal 16 Februari 1902, aktivitasnya menghasilkan kerucut pusat.

Bulan Mei - Desember 1913, gunung berbahaya ini kembali mengeluarkan suara gemuruh, bahkan terdengar pula dentuman yang sangat keras. Hal serupa terjadi juga pada tahun 1915, 1916 dan 1917.

Tahun 1921 dan 1924, lava mengalir di dalam kaldera.

Tahun 1927, gunung Raung kembali mengancam, hampir mengulang sejarah kelam pada tahun 1730, mengeluarkan asap cendewan dan menyemburkan abu sejauh 30 kilometer. Pada tanggal 2 Agustus di tahun tersebut, terdengar dentuman yang memekakan telinga, sangat keras.

Pada tahun 1928, 1929, 1933 dan tahun 1945, lava mengalir di dalam kaldera, aliran tersebut dapat terlihat di celah-celah kaldera, berwarna merah dan sangat menakutkan.

Tanggal 31 Januari - 18 Maret 1956, gunung Raung kembali memperlihatkan kesadisannya, menyemburkan awan panas hingga 6 kilometer di atas puncak. Awan panas menyebar hingga radius 200 meter dari puncak.

Sepanjang tahun 1956 - 1986, gunung Raung tidak mau diam, dalam beberapa kesempatan, ia menyemburkan asap panas.

Tanggal 17 Oktober 2012, untuk terakhir kalinya gunung Raung kembali tidak tenang, mengalami peningkatan status menjadi Waspada dan pada tanggal 22 Oktober, statusnya kembali meningkat menjadi Siaga.

Baca juga : 4 tingkatan status gunung berapi di Indonesia

Bahkan, pada saat itu, PVMBG mengeluarkan pernyataan bahwa sejatinya gunung Raung sudah meletus dalam kategori erupsi minor, untungnya letusan tersebut hanya terjadi di dalam kaldera dan tidak sampai keluar. Pernyataan ini berdasarkan pemantauan dari satelit milik Amerika Serikat.
Gunung Raung punya sejarah letusan yang sangat mengerikan
Demikian adalah sejarah gunung Raung dalam 5 abad terakhir yang bisa saya sampaikan. Semoga sejarah kelam di atas tidak pernah terulang kembali, mengingat Raung merupakan sebuah gunung yang besar dan tinggi.
Share:

Biaya Pendakian Gunung Kerinci, Jambi (Dari Jakarta)

biaya pendakian gunung kerinci

Gunung Kerinci merupakan gunung berapi tertinggi di Asia Tenggara, ketinggian puncaknya mencapai 3.805 mdpl. Meskipun hingga saat ini status gunung Kerinci masih berupa gunung berapi aktif, namun antusias untuk menjamahinya tidak pernah surut sepanjang tahun. Terlebih saat musim libur tiba, banyak para pendaki yang memilih gunung Kerinci sebagai tempat untuk menghabiskan masa liburannya. Hal ini tidak lepas dari keindahan alam yang dimilikinya.

Lokasi gunung Kerinci terletak di perbatasan Kabupaten Jambi dan Kabupaten Sumatera Barat. Dalam sejarahnya, letusan terakhir gunung Kerinci terjadi pada tahun 2009.

Dalam tulisan ini, saya akan menulis tentang informasi yang kamu butuhkan sebelum melakukan pendakian ke sana. Yakni, informasi tentang estimasi biaya pendakian di gunung Kerinci. Berikut di bawah ini.


Biaya Pendakian Gunung Kerinci, Jambi (Dari Jakarta)

Buat kamu yang hendak melakukan pendakian di gunung Kerinci untuk pertama kalinya, sebaiknya jangan terlalu memikirkan masalah biaya. Sebab sejatinya, besar atau kecilnya pengeluaran kembali kepada kemampuan kita dalam mengaturnya.

Biaya untuk melakukan pendakian di gunung Kerinci sendiri mengacu pada beberapa faktor, termasuk perbekalan logistik, peralatan pendakian dan alat transportasi yang kamu pilih, apakah menggunakan transportasi darat atau transportasi udara. Semuanya mempengaruhi besar-kecilnya pengeluaranmu.

Transportasi Darat

Bila kamu dari Jakarta dan menggunakan jalur darat. Maka tujuan utamamu adalah Terminal Kampung Rambutan, kamu dapat memilih berbagai kendaraan bis antar provinsi, dari Jakarta menuju Jambi. Layanan bis yang bisa kamu pilih di antaranya adalah Handoyo, ALS, Famili Raya, Medan Jaya dll.

Ongkosnya sendiri bervariasi antara Rp. 250.000 hingga Rp. 350.000. Sedangkan waktu perjalanan yang akan kamu tempuh adalah sekitar 2 hari 2 malam. Memanglah cukup lama, untuk mengusir kejenuhan saat berada di bis, kamu bisa bermain kartu, ngobrol kanan-kiri atau tidur pulas.

Transportasi Udara

Tentu saja, meskipun lebih mahal, jika memilih jalur udara, kamu dapat mempersingkat waktu. Bila kamu dari Jakarta, maka tujuan awalmu adalah Bandara Soekarno - Hatta, ada banyak layanan maskapai yang bisa dipilih, di antaranya adalah Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, Lion Air dll, dengan tujuan Bandara Sultan Thaha Jambi (dibaca Toha).

Biaya ongkosnya sendiri sekitar Rp. 450.000, sedangkan lama perjalanan hanya 1 hari. Sesampainya di Bandara Sultan Thaha Jambi, kamu bisa menggunakan travel, taxi atau yang paling murah, yakni angkutan umum.

Biaya Pendakian Gunung Kerinci

Untuk biaya retrubusi memasuki kawasan gunung Kerinci, kamu hanya diharuskan merogoh kocek sebesar Rp. 7.500 per orang. Namun, bila hendak menyewa porter, agar pendakianmu lebih aman dan nyaman, uang yang harus kamu siapkan adalah sekitar Rp. 250.000 - Rp. 300.000,-

Baca juga : 5 misteri gunung Kerinci yang angker

Demikian adalah informasi tentang biaya pendakian gunung Kerinci yang bisa saya sampaikan, buat kamu yang berada di luar Jakarta, kamu dapat menggunakan informasi di atas sebagai rujukan untuk mengira-ngirakan biayanya.

Tips : Sebaiknya menyiapkan uang lebih sebesar Rp. 100.000 - Rp. 150.000 dari biaya yang sudah kamu perkirakan, sebagai uang simpanan, khawatir jika ada kondisi yang tak disangka-sangka saat kamu berada dalam perjalanan.

Catatan : Sebelum melakukan pendakian ke gunung Kerinci, selain menyiapkan uang, sebaiknya kamu juga menyiapkan fisik, mental dan perlengkapan pendakian.

Baca juga;

12 olah raga ringan sebagai persiapan fisik sebelum pendakian
perlengkapan mendaki gunung. 12 barang ini akan membuat lebih siap untuk mendaki
Share:

Sejarah Gunung Salak dan Prabu Siliwangi

sejarah gunung salak

Gunung Salak selalu menjadi pembahasan menarik, terlebih di kalangan para pendaki gunung dan dunia penerbangan. Bahwasannya, banyak sekali cerita yang beredar tentang pendaki yang tersesat, mengalami kecelakaan dan hilang di gunung Salak. Serta, setidaknya ada 7 pesawat yang pernah terjatuh di kawasan gunung Salak.



Cerita-cerita tentang gunung Salak didominasi oleh misteri, kisah horor dan tragedi berbalut suasana angker. Jika ingin mengetahui setiap misteri yang menyelimutinya, sebaiknya kamu membaca 12 misteri gunung Salak terlebih dahulu.

Namun, selain terkenal berbahaya dan angker, gunung Salak pun tidak luput dari sejarah yang tersimpan di dalamnya, banyak kalangan yang mengaitkan sejarah gunung Salak dengan raja sakti dari kerajaan Pajajaran yang bernama Prabu Siliwangi, disebut juga Prabu Sri Baduga Maharaja. Oleh sebab itu, dalam tulisan kali ini, kamu akan mengetahui tentang;


Sejarah Gunung Salak dan Prabu Siliwangi

Sejarah Penamaan Gunung Salak



Meski menjadi buah bibir yang sering diperbincangkan, namun hingga saat ini, asal-muasal nama gunung Salak masih simpang siur. Setidaknya, setelah mencari informasi, baik itu bertanya pada masyarakat sekitar atau membaca pada beberapa blog pendakian, saya menemukan 3 statment. Di antaranya sebagai berikut ini;

1. Salah seorang warga menuturkan bahwa dahulu, di gunung Salak ditemukan buah salak yang memiliki ukuran raksasa. Oleh karenanya, gunung ini dinamai Salak.

2. Pendapat kedua malah berbenturan dengan yang pertama, pasalnya, Wikipedia menyebutkan bahwa penamaan gunung Salak tidak ada hubungannya sama sekali dengan salah satu nama buah. Justru nama Salak diserap dari bahasa sansekerta. Yaitu kata 'salaka' yang bermakna perak. Jika kita merujuk pada pendapat ini, maka gunung Salak bisa diartikan sebagai gunung perak.

3. Menurut sebuah versi mengatakan bahwa pada abad ke-4 sampai ke-5, berdiri sebuah kerajaan bernama Salaknagara yang berlokasi di lereng gunung Salak. Nama gunung Salak pun diduga diambil dari nama depan kerajaan tersebut.

Kisah Moksanya Prabu Siliwangi di Gunung Salak

Salah satu kisah yang paling populer di kawasan gunung Salak adalah cerita tentang moksanya Prabu Siliwangi saat ia terdesak oleh pengaruh Islam pada masa itu. Kala itu, di belantara hutan gunung Salak, ketika Prabu terdesak oleh kepungan tentara putranya, Prabu Kian Santang, Prabu Siliwangi terbang ke atas dan melakukan moksa.

Catatan : Moksa adalah aktifitas spiritual, dimana seseorang menghilang begitu saja dari kehidupan dunia nyata. Belum diketahui apakah benar-benar menghilang dari alam dunia atau hanya berpindah tempat saja.

Lokasi moksanya Prabu Siliwangi berada tidak jauh dari kawasan Kawah Ratu. Saat ini, tempat moksa itu dikenal dengan sebutan Pengapungan.

Apakah Prabu Siliwangi Benar-Benar Wafat di Gunung Salak?

Sejarah tentang Prabu Siliwangi yang kita dengar, seringkali bercampur dengan kisah legenda dan mitos. Salah satu cerita yang kita tahu adalah bahwa terdapat makam yang diyakini sebagai tapak tilas sang Prabu. Pertanyaannya, apakah Prabu memang benar-benar wafat di kawasan gunung Salak?.

Inilah jawaban kang Wawan, seorang aktivis budaya Sunda dan lingkungan saat ditanyai merdeka.com tentang hal itu.


Sebenarnya belum tentu. Makam Prabu Siliwangi ada juga di beberapa tempat. Di Leuweung Sancang, Garut, ada. Di daerah Kawali, Ciamis juga ada. Di Gunung Tampomas, Sumedang juga ada.

Prabu Siliwangi bergelar Sri Baduga Maharaja. Dia memerintah Pajajaran sekitar tahun 1482-1521. Siliwangi dikenal sebagai raja yang mencintai rakyatnya. Dia meminta agar pajak hasil bumi tidak memberatkan rakyat. Dia juga mengatur pemerintahan dengan cukup baik sehingga Pajajaran disegani. Kekuasan Siliwangi dan Pajajaran meredup seiring dengan masuknya Islam ke Nusantara. Bahkan keluarga dan anaknya pun masuk Islam.



Demikian adalah informasi tentang sejarah gunung Salak dan Prabu Siliwangi yang bisa saya sampaikan. Semoga dapat membantumu untuk mengenal lebih jauh tentang gunung Salak. Salam lestari.
Share:

Sejarah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro

sejarah gunung sumbing dan gunung sindoro

Gunung Sumbing berada di dekat gunung Sindoro, keduanya sangat populer di kalangan para pendaki, seperti saudara kembar, bila kita sedang membahas salah satunya, pastilah satu lainnya ikut dibahas. Seperti kali ini, maksud saya hanya ingin menulis sejarah gunung Sumbing, namun tetap saja saya harus menuliskan tentang gunung Sindoro juga. Oleh sebab itu, tulisan ini dikasih judul;


Sejarah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro

Gunung Sumbing

Ketinggiannya mencapai 3.371 Mdpl, gunung Sumbing menempati urutan ke-2 dalam 7 gunung tertinggi di provinsi Jawa Tengah, setelah gunung Slamet (3,428 mdpl), serta menempati urutan ke-3 dalam 7 gunung tertinggi di pulau Jawa, setelah gunung Semeru (3,676 mdpl) di Jawa Timur dan gunung Slamet di Jawa Tengah.

Letaknya berada di perbatasan 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Magelang, Wonosobo dan Kabupaten Temanggung. Untuk mengetahui informasi jalur pendakian gunung Sumbing, kamu dapat membacanya dalam tulisan yang berjudul jalur pendakian gunung Sumbing via Kaliangkrik.

Sedangkan, kamu dapat membaca 11 misteri gunung Sumbing untuk mengetahui setiap misteri yang ada di dalamnya.

Gunung Sindoro

Ketinggiannya mencapai 3.150 mdpl, gunung Sindoro merupakan gunung tertinggi ke-4 di provinsi Jawa Tengah. Gunung Sindoro juga merupakan gunung berapi aktif, dalam sejarah letusannya, gunung satu ini tidak terlalu ekstrim. Sebab, setiap letusannya terjadi dalam sekala ringan dan sedang.

Untuk mengetahui segala misteri yang ada di gunung Sindoro, sebaiknya kamu membaca 9 misteri gunung Sindoro, tempat bersemayamnya para bidadari.

Sejarah Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro

Kisah bermula dari sebuah keluarga yang memiliki sepasang putera kembar, sang ayah bekerja sebagai petani dan ibu disibukan oleh anak kembarnya, terkadang ia juga ikut ke ladang menemani suaminya. Kehidupan mereka diselaraskan dengan ritme alam pedesaan.

Setiap pagi, mereka pergi ke ladang, melakukan berbagai aktifitas bertani, seperti mencangkul, membenih atau hanya berjaga dari serangan hama. Saat sinar matahari menyengat, mereka berteduh sambil beristirahat. Dan sore harinya, mereka pulang ke pondok sederhana yang terletak tidak jauh dari ladang. Setiap hari, seperti itulah perputaran kehidupan mereka, rutinitas seperti itu, nyaris tak berubah sepanjang waktu.

Namun, seperti saudara pada umumnya, si kembar selalu saja terlibat dalam sebuah pertikaian, sepanjang hari, mereka selalu saja bertengkar. Bahkan, masalah sepele pun dapat mencuatkan keributan di antara mereka.

Hingga pada suatu hari, sang ayah menampar keduanya karena sudah tidak kuat mendengar ocehan dan melihat pertikaian mereka. Kesabarannya sudah di ambang batas. Hingga akhirnya, bibir dari salah satu anak kembar itu robek, bahasa Jawa menyebutnya 'sumbing, akibat tamparan sang ayah.

Hingga pada akhirnya, kisah kedua anak kembar itu diabadikan lewat nama 2 gunung yang seakan kembar karena terletak berdampingan, yakni gunung Sindoro dan gunung Sumbing.

Gunung Sindoro menggambarkan salah satu anak yang memiliki perangai santun, karena ndoro dalam bahasa Jawa bermakna pada gambaran sikap santun, anak satu ini dijuluki si ndoro. Sedangkan gunung Sumbing menggambarkan satu anak lainnya yang bibirnya robek, dalam bahasa Jawa, bibir robek disebut juga sumbing.

Kisah sejarah di atas diambil dari cerita rakyat yang beredar di kalangan masyarakat Jawa.

Sejarah Meletusnya Gunung Sindoro

Sedikit sekali catatan tentang sejarah letusan yang terjadi di gunung Sindoro. Letusannya hanya tercatat sejak abad ke-19. Di bawah ini merupakan sejarah letusan dan peningkatan aktivitas vulkanik di gunung Sindoro yang terjadi sejak abad ke-19 Masehi;

1806 : letusan di puncak belum bisa dipastikan kejadiannya, apakah benar-benar terjadi atau tidak

1818 : Meskipun belum dapat memastikan tanggal dan bulan kejadiannya, namun kabarnya, letusan ini menerbangkan abu hingga pantai Pekalongan

1882 : Pada tanggal 1 - 7 April terjadi lelehan lava ke arah barat laut, letusan abu mencapai kawasan Kabumen

1883 : Para ahli sejarah meyakini bahwa letusan terjadi pada bulan Agustus, terjadi peningkatan aktifitas vulkanik

1887 : Ledakan terdengar pada tanggal 13 - 14 November

1902 : Dari tanggal 1 hingga 25 Mei, gunung Sindoro mengeluarkan lumpur dan melontarkan batu pijar yang untungnya jatuh kembali pada lubang lontaran

1908 : Terjadi pada tanggal 10 Februari, gunung Sindoro mengeluarkan suara gemuruh

1910 : Pada bulan Januari, terjadi peningkatan aktifitas, suara gemuruh terdengar di kawasan Temanggung dan sekitarnya

1970 : Setelah beristirahat selama 60 tahun, pada tahun ini, gunung Sindoro kembali mengeluarkan gejala meningkatnya aktifitas. Namun beruntung, gunung Sindoro kembali dalam keadaan kondusif. Peningkatan aktifitas ini terjadi dari tanggal 21 Oktober - 2 November

1973 : 3 orang, yakni Hamidi, Hadian dan Reksiwirogo melakukan pendakian sampai puncak, tapi mereka tidak melihat bekas peningkatan aktifitas vulkanik

2011 : Statusnya meningkat menjadi Waspada. ada katifitas vulkani dalam dan vulkani dangkal

Baca juga : tingkatan status gunung berapi di Indonesia

Demikian adalah informasi tentang sejarah gunung Sumbing dan Sindoro yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat dan membantumu untuk mengenal lebih jauh tentang ke-2 gunung kembar ini.
Share:

Jalur Pendakian Gunung Sumbing Via Butuh, Kaliangkrik

pendakian gunung sumbing via kaliangkrik

Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3.371 Mdpl, ia menempati urutan ke-2 dalam jajaran gunung-gunung tertinggi di provinsi Jawa Tengah, setelah gunung Slamet (3,428 mdpl). dan merupakan gunung tertinggi ke-3 di pulau Jawa, setelah gunung Semeru (3,676 mdpl) dan gunung Slamet.

Letaknya berada di atas kawasan 3 kabupaten sekaligus, yakni Kabupaten Temanggung, Megelang dan Kabupaten Wonosobo, berdekatan dengan gunung Sindoro. Untuk memudahkan para pendaki, di setiap kabupaten terdapat jalur pendakiannya masing-masing. Misalnya;

  • Jalur Garung di Wonosobo
  • Jalur Mangli di Megelang
  • Jalur Cepit Parakan di Temanggung
  • Jalur Bowongso di Wonosobo
  • dan jalur Butuh di Magelang

Dalam tulisan kali ini, kamu akan mengetahui informasi tentang jalur pendakian yang berada di kabupaten Magelang yakni jalur Butuh. Untuk jalur lainnya, akan saya tulis di postingan-postingan berikutnya. Oleh karena itu, sebaiknya kamu tidak bosan-bosan untuk mengunjungi blog Basecamp Para Pendaki.


Jalur Pendakian Gunung Sumbing Via Butuh, Kaliangkrik

Jalur Butuh merupakan jalur yang jarang sekali dilalui oleh para pendaki, tergolong sebagai jalur baru yang penuh tantangan, selain track-nya yang sedikit sadis, petunjuk arah juga jarang ditemui saat kamu menggunakan jalur ini untuk mencapai puncak gunung Sumbing. Sepertinya, jalur satu ini tidak akan mudah digeluti oleh orang-orang yang baru pertama kali melakukan pendakian.

Namun di samping fakta tersebut, jalur Butuh juga merupakan jalur dengan pemandangan alam yang asri di sepanjang perjalanan, dan merupakan jalur dengan jarak tempuh paling pendek di antara jalur lainnya. Sebab, basecamp-nya sendiri terletak di dataran yang cukup tinggi, kamu hanya membutuhkan waktu 6-7 jam untuk sampai di puncak Kaliangkrik.

Rute Perjalanan Menuju Basecamp Butuh

Pertama-tama, dari kota mana pun kamu, tujuan kita adalah kota Magelang, kemudian ke arah barat untuk menuju Kecamatan Kaliangkrik. Setelahnya, sesampainya di pasar Kaliangkrik, kemudian tujulah Kelurahan Temanggung, tepatnya SDN. Temanggung. Dari situ, tinggal ikuti papan petunjuk yang tersedia. Jalannya menanjak.

Alamat Basecamp Butuh di Kecamatan Kaliangkrik

Kp. Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.

Udara di basecamp sudah terasa sejuk dan berhawa dingin, terdapat fasilitas musholla, kamar mandi, tempat istirahat dan parkiran yang cukup untuk menampung 100 motor. Sebetulnya, basecamp Butuh merupakan rumah seorang kepala dusun bernama pak Dukuh.

Saat berada di basecamp, dianjurkan untuk membayar biaya pendakian sebesar Rp. 5.000, harga tersebut sudah termasuk biaya parkir dan bonus 1 buah stiker gunung Sumbing.

Perjalanan dimulai.....

Basecamp - Pos 1 (2 Jam)

Di awal perjalanan, selepas pos 1, kamu akan melewati medan bebatuan yang tersusun rapih sehingga menyerupai anak tangga. Pemandangan berupa hamparan perkebunan milik penduduk di sana, di sini terdapat banyak sumber air yang bisa kamu manfaatkan untuk mengisi perbekalan air minummu. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di pos 1 adalah sekitar 2 jam.

Pos 1 merupakan sebidang tanah yang sedikit luas, mungkin hanya mampu menampung 3-4 tenda saja, pemandangan di sini cukup terbuka, menampilkan hamparan luas alam hijau yang sangat memukau. Pos 1 ditandai dengan dengan tiang pipa yang bertuliskan 'Camp 1'.


Pos 1 - Pos 2 (1 Jam)

Medan selepas pos 1 masih berupa bebatuan yang tersusun rapih, pemandangan mulai memasuki hutan pinus yang lebat dan rimbun, udara semakin yahut, semakin sejuk. Track lebih landai dari sebelumnya, karena di sini kamu akan sering menemui bonus. Namun sepanjang perjalanan menuju pos 2, kamu tidak akan menemukan sumber air.

Prakiraan waktu untuk sampai di pos 2 sekitar 1 jam perjalanan. Pos 2 merupakan sebidang tanah datar yang tidak lebih luas dari pos 1, mungkin hanya mampu menampung 2 tenda saja. Pos 2 ditandai dengan tiang pipa yang bertuliskan 'Camp 2', pemandangan di sini tertutup oleh lebatnya hutan pinus.


Pos 2 - Pos 3 (1 Jam)

Perjalanan menuju pos 3 adalah perjalanan yang sangat asik, medan berbatu kini berubah menjadi tanah, track sangat landai, banyak bonusnya, bahkan di beberapa titik track-nya menurun, vegetasi sedikit terbuka, pemandangan dihimpit oleh semak belukar yang di sela-lanya menampilkan hamparan kota Magelang.

Di tengah-tengah perjalanan, kamu akan melewati sebuah sungai yang mengair air bersih di dalamnya. Sungai ini bisa dimanfaatkan untuk membasuh muka dan mengisi persediaan air kembali. Setelah berjalan sekitar 1 jam, sebelum sampai di pos 3, kamu akan menemui sebuah persimpangan jalan. Kanan untuk menuju desa Mangli dan lurus untuk melanjutkan perjalanan menuju pos 3.

Seperti sebelumnya, pos 3 ditandai dengan sebuah tiang pipa yang bertuliskan 'Camp 3'. Pemandangan masih berupa hutan yang sedikit terbuka, tidak jauh dari sana, ada aliran sungai yang terhubung dengan sungai di bawah tadi.


Pos 3 - Pos 4 (2 Jam)

Setelah dimanjakan oleh track sebelumnya, selepas pos 3, kemiringan track sedikit meningkat, medan berupa tanah, vegetasi masih sedikit terbuka, jalanan didominasi oleh semak belukar, namun jalur masih bisa terlihat dengan jelas. Jangan buru-buru, karena pemandangan di sepanjang perjalanan, sangat layak untuk dinikmati.

Perjalanan menuju pos 4 ini akan menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Sesampainya di pos 4, kamu akan menemui sebidang tanah yang cukup luas, di sana hanya ada satu pohon yang tumbuh, makannya pos 4 disebut juga sebagai pos Pohon Tunggal. Meskipun area tanahnya sedikit miring, namun tidak sedikit para pendaki yang mendirikan tenda di pos 4. Sebab, pemandangannya sangat menarik, berupa gunung Merapi dan gunung Merbabu yang bersandingan di kejauhan.

Namun perlu diingat, vegetasi di pos 4 sangat terbuka, angin yang berhembus sedikit kencang. Jadi, jagalah barang bawaanmu yang mudah tertiup angin.


Pos 4 - Puncak

Dari pos 4, kamu dapat mencapai ke-3 puncak gunung Sumbing sekaligus, di antaranya adalah puncak Kaliangkrik, puncak Kawah dan puncak Rajawali. Saat melakukan summit atack, sebaiknya hanya membawa barang-barang yang dibutuhkan saja, sedangkan barang-barang berat seperti carrier, tenda dll, bisa disimpan di tempat camp, di pos 4.

Setelah berjalan di atas medan tanah bercampur kerikil, sekitar 1 jam dari pos 4, kamu akan menemui sebuah persimpangan jalan, lurus menuju puncak Kaliangkrik dan kanan menuju Sabana, yang kemudian menuju puncak Rajawali dan puncak Kawah.

Masing-masing jarak tempuh dari persimpangan jalan tersebut adalah 30 menit ke puncak Kaliangkrik, 60 menit ke puncak Rajawali dan 90 menit, dengan track menanjak untuk sampai ke puncak Kawah. Dari sana, kamu bisa melanjutkan perjalanan sekitar 15 untuk sampai di kawah Segara Wedi.

Estimasi Waktu Pendakian Gunung Sumbing Via Butuh, Kaliangkrik

Basecamp - Pos 1 : 2 Jam
Pos 1 - Pos 2 : 1 Jam
Pos 2 - Pos 3 : 1 Jam
Pos 3 - Pos 4 : 2 Jam
Pos 4 - Puncak Kaliangkrik : 1,5 Jam
Pos 4 - Puncak Rajawali : 2 Jam
Pos 4 - Puncak Kawah : 2,5 Jam
Puncak Kawah - Kawah Segara Wedi : 15 Menit

4 Fakta Tentang Jalur Pendakian Gunung Sumbing Via Kaliangkrik

1. Tempat paling indah di gunung Sumbing adalah sabana bagian dalam, pemandangannya berupa tembok tebing yang megah nan mengagumkan. Selain itu, dari sini pun, kamu dapat menikmati pemandangan kawah Sumbing dan segara pasir.

2. Udara malam di gunung Sumbing sangatlah dingin, sedangkan sengatan cahaya matahari di siang hari akan terasa sangat tajam. Bawalah peralatan pendakian yang bisa mengakali keduanya.

3. Tempat paling ideal untuk menyaksikan sunrise adalah pos 4, di sana kamu dapat menikmati sunrise yang ditemani oleh gugusan gunung Merbabu, Merapi dan gunung Ungaran.

4. Waktu ideal untuk melakukan pendakian di gunung Sumbing adalah awal musim kemarau, mendakilah di siang hari, karena track di sepanjang jalur Butuh, tidak terlihat begitu jelas.

Misteri Gunung Sumbing

Bila tertarik untuk mengetahui segala macam misteri yang terdapat di gunung Sumbing, sebaiknya kamu membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul 11 misteri gunung Sumbing, tempat bersemayamnya para peri.

Demikian adalah informasi tentang jalur pendakian gunung Sumbing via Butuh, Kaliangkring. Semoga bisa bermanfaat dan terimakasih sudah berkunjung.
Share:

Search This Blog

Powered by Blogger.

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <script>      (adsbygoo...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.