• This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Misteri Pasar Setan di Gunung Lawu yang Angker

di gunung lawu

Untuk penduduk lereng gunung Lawu dan para pendaki, mungkin pasar setan sudah bukan hal asing lagi di telinga. Banyak kisah tentang keberadaannya. Sebagian pendaki, hanya mendengar suara riuhnya. Sebagian lagi dapat melihat pemandangan keramaian pasar di atas gunung. Sungguh aneh, tapi ini faktanya.



Banyak para pendaki yang tertarik dengan misteri keberadaan pasar setan, termasuk saya sendiri. Meskipun belum pernah, dan tidak ingin pernah, mengalaminya. Namun, dalam tulisan kali ini, kita akan mengulas keberadaan pasar misterius yang sering diceritakan oleh sebagian pendaki. Khususnya pasar setan yang terdapat di gunung Lawu.

Baca juga : misteri gunung Lawu, gunung paling angker di Indonesia


Misteri Pasar Setan di Gunung Lawu



Pada dasarnya, pasar setan tidak hanya terdapat di gunung Lawu saja. Beberapa gunung di Indonesia memilikinya, seperti gunung Merbabu, Slamet atau gunung Sumbing. Namun, karena akan sangat panjang, maka tulisan ini dikhususkan untuk pasar setan di gunung Lawu.


Lokasi Pasar Setan Gunung Lawu

Pada umumnya, pasar setan berada di punggungan puncak sebuah gunung, berupa tanah datar yang cukup luas, sehingga sangat memikat untuk dijadikan tempat istirahat, mendirikan tenda, sebelum melakukan summit atack di pagi hari.

Tempat lain yang sering menjadi tempat keberadaan pasar setan adalah sebuah lapangan kecil di atas gunung yang tidak ditumbuhi pepohonan tinggi dan hanya dipenuhi oleh semak belukar yang tidak terlalu tinggi. Hal ini mengakibatkan, angin yang berhembus akan sangat terasa kencang oleh para pendaki yang berada di sana.

Pada area yang memenuhi kriteria di atas, sudah bisa dipastikan bahwa saat malam hari tiba, angin akan bertiup kencang lewat lereng puncak dengan cepat yang mengakibatkan terciptanya suara riuh. Oleh sebagian pendaki, yang mendengar suara itu, digambarkan sebagai suara pasar setan. Pasar yang terdengar suara riuhnya, namun perwujudannya tidak pernah terlihat.

Baca juga : pendakian gunung Lawu via Cemoro Sewu

Pasar setan di gunung Lawu sendiri memang terletak di lereng puncaknya. Yakni di jalur Candi Cheto, di sebuah lahan datar yang ditumbuhi ilalang. Dalam sebuah blog milik seorang pendaki, saya sempat membaca bahwa ia pernah mendengar suara bising di tempat itu. Bahkan dia mendengar juga seseorang mengatakan padanya;


Mau beli apa mas?

Kebenarannya?, entahlah.

Menurut hemat saya, mendaki gunung adalah kegiatan yang melelahkan dan udara di atas gunung pada malam hari, sangatlah dingin. Saat kelelahan atau kedinginan, manusia sangat mudah mengalami halusinasi. Mungkin hal ini pula yang dialami oleh sebagian pendaki yang mengaku pernah mendengar suara pasar setan.

Namun, pandangan itu tidak menutup kemungkinan bahwa pasar setan di gunung Lawu memang benar-benar ada. Bisa saja makhluk penunggu Lawu menampakan diri untuk mengingatkan (atau menggoda iman?) para pendaki agar tidak melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan saat naik gunung. Toh, dalam agama Islam, kita dituntut untuk percaya kepada dunia ghaib. Asalkan tidak menjurus kepada kemusyrikan.



Demikian adalah ulasan tentang misteri pasar setan di gunung Lawu. Meskipun tidak ada bukti nyata berbentuk fisik, namun seharusnya hal ini dapat mengingatkan kita untuk selalu mengingat Allah SWT dan berperilaku baik dalam setiap pendakian.
Share:

7 Merk Peralatan Outdoor Indonesia Dengan Kualitas Dunia

7 merk peralatan outdoor di indonesia

Semakin hari, kegiatan di alam bebas semakin diminati oleh berbagai kalangan. Tidak hanya anak muda, namun banyak orang tua dan anak-anak pun yang terjebak dalam asiknya bermain di alam bebas, termasuk travelling, hiking atau mountainering. Tentu saja, hal ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan alat-alat outdoor.



Mulai dari sepatu gunung, tenda dome, kompor lapangan, carrier dan lain semacamnya. 15 tahun yang lalu, pasaran Indonesia sendiri masih didominasi oleh produsen-produsen luar negri dalam menyediakan peralatan outdoor. Tapi sekarang, seperti tidak mau kalah, produsen-produsen peralatan outdoor lokal pun mulai unjuk gigi dalam memikat hati para konsumen. Berikut adalah;


7 Merk Peralatan Outdoor Indonesia Dengan Berkualitas Dunia

EIGER



Pada mulanya, perusahaan bernama lengkap Eigerindo Multi Produk Industri ini diusung oleh Ronny Lukito pada tahun 1993 di Bandung. Namanya sendiri diambil dari nama sebuah gunung yang terletak di Alpen Barnes, Swiss, setinggi 3.970 mdpl.

Saat ini?, brand Eiger sudah dikenal oleh para pendaki Indonesia sebagai produsen yang menyediakan berbagai peralatan outdoor, mulai dari jam survival hingga tenda, dengan kualitas kuat dan model yang trendi. Bahkan, banyak kalangan yang menggunakan pakaian dan tas Eiger untuk kebutuhan style.

Consina

Awalnya, brand ini didirikan oleh Dyson pada tahun 1998 di Bekasi. Dengan hanya bermodal satu mesin jahit bermerk Butterfly, Dyson menjahit pakaian lapangan dengan kualitas bagus dan jahitan yang rapih, yang mampu memikat hati para konsumen.

Hari ini, Dyson sudah sukses dengan brand Consina-nya. Pendaki gunung mana yang tak mengenal Consina?, hasil produksinya laris manis di pasaran. Sebab, Consina dikenal sebagai brand yang menyediakan berbagai kebutuhan kegiatan outdoor yang berkualitas, bersahabat dengan dompet dan tahan lama.

COZMEED

Pada tahun 2008, perusahaan Cozmeed berdiri dengan nama awal 'Cartenz'. Berselang beberapa saat, perusahaan ini berganti nama menjadi Cozmeed. Mengusung misi sebagai teman baik dalam berbagai petualangan ' Partner In Adventure'. Membanggakan harga yang murah dengan kualitas yang oke.

Sampai saat ini, Cozmeed telah memproduksi berbagai peralatan outdoor. Produk unggulannya antara lain adalah;


  • Jaket gunung
  • Pakaian lapangan
  • dan carrier

Cozmeed juga dikenal dengan berbagai desainnya yang unik-unik dan warnanya yang terang. Memudahkanmu untuk dikenal/ditemukan rekan sependakianmu.

Baca juga: 8 sepatu gunung murah dan berkualitas

Avtech

Didirikan pada tahun 1999 di Jakarta Utara dengan nama awal 'Gelarwangi'. Setelah beberapa tahun, kemudian berganti nama menjadi Avtech, singkatan dari Adventure Technologi. Brand ini mengusung slogan 'memanfaatkan teknologi untuk kebutuhan petualangan'.

Hingga hari ini, Avtech sudah sangat akrab dengan para pendaki Indonesia. Saat masuk ke toko peralatan outdoor, saya sering melihat produk-produk Avtech yang disimpan di etalase. Saat mendaki gunung, sering juga melihat rekan-rekan pendaki yang menggunakan produk Avtech. Ini bukti bahwa, saat ini, Avtech sudah sangat populer.

Alpina

Bisa dikatakan, Alpina adalah visioner di antara produsen-produsen penyedia peralatan outdoor lainnya di Indonesia. Brand paling tua, perusahaan Alpina Outdoor didirikan oleh Bambang Broto pada tahun 1978 di kota Bandung. Pada tahun pertamanya, Bambang Broto memproduksi celana lapangan dengan hanya bermodal sebuah mesin jahit.

Di tahun 1990, Alpina sempat menguasai pasaran peralatan outdoor. Bukan hanya di Indonesia, namun kita bisa menemukan merk Alpina di area pegunungan Himalaya. Seseorang mengaku, pernah melihat sebuah toko di Kathmandu, Nepal, yang menjajalkan produksi Alpina.

Claw

Saat pertama mendengar kata 'Claw', mungkin kamu akan mengira bahwa ini adalah brand luar negri. Namun, siapa sangka, dengan nama keren dan kualitas tahan lama. Seratus persen, Clau adalah aparel lokal, asal Semarang, yang bergerak di bidang penyedia peralatan outdoor, termasuk kegiatan mendaki gunung.

Gravell

Terakhir ada perusahaan Gravell. Meski namanya tidak sepopuler Eiger dan Consina. Tapi, dalam segi harga, kekuatan dan desain, produsen ini tidak mau kalah. Contohnya saja carrier hasil produksinya bernama Singkareang, banyak pendaki gunung yang percaya untuk mengandalkannya. Saat ini, Gravell mempunyai tiga cabang di kota besar Indonesia, termasuk di Semarang, Yogyakarta dan Bandung.



Baca juga: 21 merk peralatan outdoor terbaik di dunia

Demikian adalah 7 merk peralatan outdoor Indonesia yang, menurut saya, terbaik. Ngomong-ngomong, merk mana yang selama ini menjadi andalanmu?.
Share:

6 Film Pendakian Gunung Indonesia Paling Populer

6 film pendakian gunung indonesi terpopuler

Film bertema pendakian di Indonesia selalu menarik untuk ditonton, apalagi untuk penghobi ketinggian. Saat menyaksikan film-film pendakian, kita bisa melihat keindahan alam Indonesia yang memukau, mengetahui tentang perjuangan untuk menikmati sajian alam, cara berjuang untuk bertahan hidup di alam rimba, serta semangat untuk melakukan petualangan di atas gunung.



Memang seperti itulah kekuatan dari sebuah film. Film romantis, akan membawa kita kepada pribadi puitis. Film action, mampu merubah kita menjadi pribadi yang berani. Film tentang kehidupan, akan menjadikan kita bak Mario Teguh, penuh dengan motivasi. Demikian pula dengan film tentang pendakian, mampu membangkitkan semangat bertualang untuk mencapai puncak-puncak tertinggi.

Berbicara mengenai film bertema pendakian, Holywood sudah banyak sekali memproduksinya, dengan berbagai alur cerita dan dengan berbagai gunung di dunia sebagai latar belakangnya. Bagaimana dengan di Indonesia sendiri?. Meskipun tidak terlalu banyak, jumlahnya bisa dihitung oleh jari, tapi kita masih harus bersukur. Setidaknya ada 6 tontonan asik dengan latar belakang keindahan gunung-gunung di Indonesia yang menawan.

Nah, dalam artikel yang sedang kamu baca sekarang, kita akan mengulas tentang;


6 Film Pendakian Indonesia yang Akan Membawamu Kepada Keindahan Alam Bumi Pertiwi

1. 5cm



Sebuah film yang disutradarai oleh Rizal Mantovani, diproduksi tahun 2012, mengangkat kisah yang telah diceritakan dalam sebuah novel best seller, berjudul 5cm. Film 5cm menceritakan tentang perjuangan 5 orang sahabat dalam menggapai atap pulau Jawa, puncak Mahameru.

Pada mulanya, 5 sahabat itu, yaitu Genta, Zapran, Ian, Arial, dan Riani, merasa bosan atas kehidupan yang mereka anggap hanya begitu-begitu saja. Akhirnya, mereka bersepakat untuk keluar dari zona nyaman, melakukan sebuah perubahan dalam hidup mereka dan melakukan petualangan di gunung Semeru.

Dalam film 5cm, kamu akan melihat keindahan gunung Semeru dari dekat, menyaksikan danau Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta dan puncak Mahameru. Banyak kalangan yang mengangkat jempol untuk film ini, namun tidak sedikit juga yang mengkritik pedas, baik terhadap pakaian yang mereka kenakan saat mendaki atau tingkah laku mereka selama dalam perjalanan menuju puncak Mahameru.

Baca juga: 29 film petualangan terbaik

2. Romeo dan Rinjani



Sebetulnya, film di nomor 2 ini bergenre percintaan. Namun sang sutradara tampaknya tertarik untuk menggunakan pemandangan cantik gunung Rinjani sebagai tema pemandangan utamanya. Menurut para pecinta film di Indonesia, alur cerita dalam film Romeo dan Rinjani ini terasa hambar, kurang mampu menarik perhatian para penontonnya.

Film ini, menceritakan tentang seorang playboy, sekaligus fotografer, bernama Romeo, yang bekerja pada salah satu majalah adventure. Pekerjaan memaksanya untuk mendaki gunung Rinjani, dalam perjalanannya, dia bertemu dengan gadis yang benar-benar bisa memikat hatinya.

Nasib film ini tidak jauh berbeda dari film 5cm, banyak kalangan mengkritik gaya berpakaian yang dikenakan oleh para pemerannya. Apalagi pakaian yang digunakan oleh Alexa Key, terlalu seksi. Meskipun demikian, pemandangan gunung Rinjani yang memukau, menjadi alasan kenapa film ini masih enak untuk ditonton.

3. Sagarmatha

Meskipun tidak sepopuler film 5cm, namun film Sagarmatha adalah salah satu tontonan wajib bagi para pendaki gunung Indonesia. Pasalnya, selain melihat pemandangan indah di gunung Everest, kamu pun bisa mengambil beberapa pelajaran hidup dari film ini, baik itu tentang persahabatan, keberanian atau sebuah perjuangan menggapai cita-cita.

Dirilis pada tahun 2013, film ini menceritakan kisah tentang 2 orang sahabat, Nadine Chandrawinata dan Ranggani Puspandya, yang kadang memiliki cara pandang berbeda dalam melihat sebuah masalah. Namun, cita-cita yang sama, yaitu ingin menggapai puncak tertinggi di dunia, menyatukan mereka dalam sebuah perjalanan yang penuh inspirasi.

Nama Sagarmatha sendiri diambil dari nama sebuah kawasan yang berada di bagian timur negara Nepal, mencakup pegunungan Himalaya dan gunung Everest. Sagarmatha juga adalah sebutan gunung Everest bagi penduduk Nepal.

4. Pencarian Terakhir

Film yang disutradarai oleh Affandi Abdul Rachman, memadukan suasana petualangan dan horor, menceritakan tentang pendakian 5 orang anak muda, Ganjar dan teman-teman. Di tengah pendakian di gunung Sarangan, mereka tersesat (atau disesatkan?). Hal ini mungkin disebabkan karena ketika mendaki, mereka sempat melakukan pesta minuman keras.

Fokus film ini menceritakan kepada misi kakak perempuan Ganjar untuk menemukan mereka. Tentu saja tidak akan mudah, ada berbagai halangan yang harus dihadapi, termasuk halangan yang datang dari makhluk penunggu gunung Sarangan. Film ini sangat bagus, membuktikan kalau film horor yang seru tidak selalu dibumbui oleh hal-hal yang berbau mesum.

5. Aksa 7



Sebuah karya film buatan anak bangsa yang sangat patut diacungi jempol. Berjenis film dokumeter, film ini akan membawamu kepada petualangan di 7 gunung tertinggi Indonesia, baik dengan segala keindahan, budaya dan masalah-masalah pada 7 gunung tersebut.

Dimulai pada bulan November 2014, oleh 5 orang laki-laki dan satu perempuan. Mereka memutuskan untuk menjalani petualangan hebat, menggapai angan untuk mengenal Indonesia dari dekat. Ke-6 ekspeditor itu sendiri antara lain adalah Anggi Frisca, Yohanes Christian Pattiasina, Rivan Hanggarai, Jogie Khrisna Muda Nadeak, Wihana Erlangga dan Teguh Rahmadi. Kabarnya film ini akan ditayangkan di seluruh bioskop Indonesia pada bulan Agustus 2017.

6. Soe Hok Gie

Menceritakan tentang kisah Soe Hok Gie yang merupakan seorang penulis idealis, demonstran handal dan pendaki gunung. Dalam film ini, sang sutradara, Riri Reza, bermaksud menggambarkan keadaan pada tahun 1960 di Jakarta, saat dimana Soekarna masih memegang tahta kekuasaan di negara ini.

Meskipun demikian, Riri Reza tidak lupa bahwa Gie adalah pendaki gunung sejati. Dalam film ini juga, kamu bisa melihat keindahan gunung Pangrango dan lembah Mandalawangi yang menjadi tempat favorit Soe Hok Gie. Selain itu, menurut saya, film ini mengajarkan tentang idealisme, cara memegangnya dan memperjuangkannya.



Baca juga: film Everest, manusia tidak pernah bisa menaklukan gunung

Demikian adalah 6 film pendakian gunung di Indonesia. Semoga film-film di atas bisa memberikanmu semangat untuk menjelajahi alam Indonesia yang sangat merona, indah dan luas.
Share:

7 Gunung Tertinggi di Pulau Jawa yang Sangat Indah Nan Elok

7 gunung tertinggi di pulau jawa

Indonesia, sebuah negara yang berada dalam rangkaian cincin api pasifik, negara cantik yang di dalamnya terdapat banyak sekali gunung berapi. Di Indonesia sendiri, pulau yang paling banyak menyumbang jumlah gunung berapi adalah pulau Jawa. Namun, selain gunung berapi, banyak juga gunung mati berdiri gagah, menghiasi, pulau panjang ini.

Maka tak heran, pulau Jawa adalah salah satu surga bagi para pendaki gunung dan perindu ketinggian, dari provinsi Banten hingga Jawa Timur, berbaris gunung-gunung elok yang menyimpan sejuta keindahan alam.

Dari banyaknya sebarisan gunung-gunung itu, kali ini, kita akan membahas tentang 7 gunung tertinggi di pulau Jawa. Masing-masing gunung tertinggi ini memiliki keunikan dan keindahan tersendiri. Langsung di bawah sini bang.


7 Gunung Tertinggi di Pulau Jawa

7. Gunung Welirang


gunung welirang
Kawah Gunung Welirang Via Wikipedia
Ketinggian puncaknya yang mencapai 3.156 mdpl menempatkan gunung Welirang di posisi 7. Letaknya dekat dengan gunung Arjuno, berdiri megah di antara kabupaten Mojokerto dan Malang, Jawa Timur. Nama Welirang sendiri memiliki artian belerang, lantaran memang, di gunung ini terdapat sumber belerang yang melimpah ruah yang dikelola oleh penduduk setempat.

Bila kamu bermaksud mendaki gunung ini, sebaiknya mendakilah sebelum pukul 7 pagi, dan jangan berlama-lama di puncak. Pada pukul sembilan ke atas, hembusan bau belerang yang sangat kuat akan menyerang kawasan puncak gunung Welirang. Bisa saja, hembusan belerang membahayakanmu.

6. Gunung Lawu


gunung lawu
Pendakian Gunung Lawu Via Bintang.com
Gunung dengan ketinggian 3.265 mdpl ini cukup dikenal sebagai gunung yang memiliki berbagai misteri, hal ini sudah kami ulas dalam sebuah tulisan yang berjudul 9 misteri gunung Lawu, salah satu misteri gunung Lawu yang paling dikenal menyebutkan bahwa apabila Lawu meletus, maka pulau Jawa bisa terbelah.

Berdiri gagah di atas tanah 2 provinsi, yaitu provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dan 3 kabupaten, yaitu kabupaten Ngawi, Magetan dan kabupaten Karang Anyar. Memiliki 3 puncak, yaitu puncak Hargo Dalem, Hargo dumilah dan Hargo Dumiling. Gunung Lawu adalah gunung aktif yang sedang beristirahat, terakhir meletus pada tahun 1885.

5. Gunung Arjuno


gunung arjuno
Pemandangan Gunung Arjuno Via Kapan lagi
Pada urutan nomor 5 ada gunung yang terletak di kabupaten Malang, Jawa Timur. Yaitu gunung Arjuno dengan ketinggian 3.339 mdpl. Letaknya berdampingan dengan gunung Welirang.

Sejak jaman lampau, gunung Arjuno sangat sarat akan hal-hal yang berhubungan dengan pemujaan. Di sana, terdapat banyak situs peninggalan sejarah, tentunya sejarah yang masih berhubungan dengan ritual pemujaan.

Jalur pendakian yang tersedia untuk dilewati ada 4 jalur, di antaranya adalah jalur Lawang, Batu, Tretes dan jalur Purwosari. Dalam masalah keindahan, gunung ini tidak kalah dengan gunung Semeru. Sangat patut kamu jamahi.

4. Gunung Raung


gunung raung
Gunung Raung Via Bintang
Berdiri di provinsi Jawa Timur, dengan ketinggian 3.344 mdpl menjadikannya menduduki posisi nomor 4 dalam ulasan kita kali ini. Di kalangan para pendaki, puncak gunung Raung dikenal dengan sebutan puncak sejati. Sebab, puncak gunung Raung adalah tantangan hebat untuk para pendaki sejati.

Gunung Raung masuk dalam tulisan kami yang berjudul 8 gunung dengan jalur pendakian paling ekstrim. Di sana disebutkan, apabila kamu bermaksud mencari tantangan hebat, maka mendaki gunung Raung lewat Kalibiru adalah hal yang sedang kamu cari. Saat melintasinya, kamu akan dihadang oleh jembatan 'Sirotol Mustaqim', sebuah jembatan kecil dengan jurang menganga di kanan dan kirinya.

3. Gunung Sumbing

Karena letaknya yang sangat berdekatan, gunung Sumbing dan Sindoro diakumulasi sebagai gunung kembar. Berdiri gagah setinggi 3.371 mdpl, menempati 3 kabupaten sekaligus, yakni kabupaten Temanggung, Magelang dan kabupaten Wonosobo, Jawa Timur. Jalur pendakian gunung Sumbing yang difavoritkan adalah lewat desa Garung.
Saat kamu berhasil menginjakan kaki di puncak gunung Sumbing, kamu bisa menyaksikan kawah yang masih aktif. Menurut saya, gunung Sumbing dan gunung Sindoro memiliki keindahan alam yang setara, namun pendakian gunung Sumbing itu lebih menantang dibanding Sindoro. Menurutmu?.

2. Gunung Slamet


gunung slamet
Gunung Slamet via Jalan Pendaki
Dengan ketinggian puncaknya yang mencapai 3.428 mdpl, gunung ini menjadi gunung tertinggi di Jawa Tengah dan menempati posisi ke-2 di pulau Jawa. Letaknya berada di atas 5 kabupaten, yaitu kabupaten Tegal, Purbalingga, Banyumas, Brebes dan kabupaten Pemalang.

Walaupun gunung Slamet tidak mudah untuk didaki, namun predikat sebagai gunung paling tinggi di Jawa Tengah tidak pernah membuatnya sepi dari perindu ketinggian. Ketika kamu hendak mendakinya, ada 3 jalur pendakian yang bisa dipilih, yaitu jalur Kaliwadas, Baturaden dan jalur Blambangan, jalur paling populer di kalangan para pendaki gunung.

1. Gunung Semeru


gunung semeru
Gunung Semeru via Super Adventure Travel
Siapa yang tidak mengenalnya, berpredikat sebagai atap pulau Jawa, memiliki keindahan alam yang sangat memukau dan terdapat danau Ranu Kumbolo yang sangat cantik. Tidak lain dan tidak bukan ialah gunung Semeru, dengan ketinggian 3.676 mdpl.

Bila kamu ingin mengetahui tentang gunung Semeru lebih detail lagi, sebaiknya kamu membaca tulisan lainnya, berjudul info gunung Semeru dan misteri gunung Semeru. Dalam 2 tulisan itu, semua tektek bengek tentang gunung Semeru sudah saya uraikan.

Demikian adalah 7 gunung tertinggi di pulau Jawa. Selanjutnya, setelah mengetahuinya, gunung mana yang akan kamu daki terlebih dahulu?. Baca juga 10 gunung tertinggi di Indonesia.
Share:

Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Via Selabintana

via selabintana

Jalur pendakian gunung Gede Pangrango yang bisa kamu pilih ada 3 jalur, yaitu jalur Gunung Putri, Cibodas dan jalur Selabintana. Dalam tulisan ini, kita akan membahas jalur pendakian gunung Gede dan Pangrango, khususnya lewat Selabintana.


Ulasan Umum Tentang Gunung Gede-Pangrango

Perlu diketahui bahwa gunung Gede dan gunung Pangrango adalah dua gunung yang berbeda. Letaknya yang sangat dekat, membuat jalur pendakian pada ke-2 gunung ini sama percis, dan sebagian orang menyebutnya dengan nama gunung Gede Pangrango.

Keberadaan gunung Gede sudah diketahui sejak abad ke-13. Hal ini dibuktikan dengan terdapatnya sebuah naskah kuno bernama Bujangga Manik yang ditulis pada abad tersebut. Dalam naskah itu menyebutkan bahwa gunung Gede adalah tanah tertinggi di daerah Pakuan.


hulu wano na Pakuan

Sedangkan, catatan modern mengungkapkan bahwa orang yang pertama kali mendaki gunung Pangrango adalah Reinwardt, seorang pencetus kebun Raya Bogor. Pada tahun 1819, untuk pertama kalinya, ia menjamahi gunung Pangrango.

Gunung Pangrango dan gunung Gede masuk dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) dan berdiri gagah di atas tiga kabupaten. Yaitu kabupaten Cianjur, Sukabumi dan Kabupaten Bogor.

TNGP sendiri dibentuk pada tahun 1980, merupakan salah satu Taman Nasional tertua di Indonesia. Tujuan didirikannya adalah untuk menjaga kelestarian ekosistem alam dan menjaga kehidupan flora di pegunungan Jawa Barat. Taman Nasional ini memiliki luas tanah sekitar 21.975 hektar, mencakup gunung Gede dan gunung Pangrango.


Gunung Gede

Gunung ini sangat dikenal sebagai tempat bernaungnya berbagai jenis burung. Dari 450 jenis burung yang terdapat di pulau Jawa, 251 jenis burung bertempat tinggal di atas gunung Gede. Dalam kata lain, 50% dari seluruh jenis burung di pulau Jawa, bisa kamu temui ketika menjelajahi hutan-hutan di gunung Gede. Selain itu, gunung Gede sangat kaya akan keaneka ragaman ekosistem, terdiri atas hutan subalqin, hutan submontana, montana, rawa dan savana. Ketinggiannya mencapai 2.958 mdpl.


Gunung Pangrango

Dengan ketinggian puncaknya yang mencapai 3.019, menempatkan gunung Pangrango di urutan nomor dua, setelah gunung Ciremai, dalam daftar gunung tertinggi di provinsi Jawa Barat. Puncaknya sendiri dikenal dengan sebutan puncak Mandalawangi.

Demikian adalah ulasan singkat tentang gunung Gede dan gunung Pangrango. Sekarang kita akan membahas tentang inti dari tulisan ini, yaitu untuk membahas;


Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Lewat Selabintana

Basecamp Selabintana berada pada ketinggian 960 mdpl. Ini adalah basecamp paling rendah dibanding basecamp Cibodas dan basecamp Gunung Putri. Tidak begitu diminati oleh para pendaki. Selain akan memakan waktu lebih lama, jalur ini pun dikenal;

  • Susahnya akses kendaraan umum, serta lebih jauh.
  • Jalurnya berlumpur dan dipenuhi pacet, membuat pendakian terasa lebih berat.

Namun, meskipun begitu, Selabintana merupakan tempat wisata favorit, digandrungi oleh para wisatawan Bandung dan Jakarta, baik itu anak-anak, remaja atau orang tua. Di sana, kamu bisa menikmati berbagai fasilitas wisata menarik, termasuk tempat bermain, penginapan, hotel, tempat berkemah dan air terjun.

Air terjun tersebut bernama air terjun Cibeurem, memiliki ketinggian 70 meter, percikan airnya menghasil kabut dan suasana riang. Untuk menemuinya, kamu harus melakukan perjalanan yang cukup sulit, jalanan berupa bebatuan, panjang dan licin. Namun, jalanan sulit itu setimpal dengan keindahan alam yang akan kamu saksikan saat menikmati keindahan air terjun Cibereum.

******

Sebelum melakukan pendakian di gunung Gede Pangrango, kamu harus melakukan booking tiket terlebih dahulu, baik itu secara online atau datang ke basecamp pendakian Cibodas. Setelah sampai di Selabintana, kamu akan diminta tiket yang telah kamu booking dan barang bawaanmu akan diperiksa, bila ketahuan membawa barang-barang yang dilarang, seperti odol, sampo, sabun dll, maka petugas akan mengambilnya.

Setelah urusan dengan pihak pengelola selesai, kamu bisa langsung melakukan pendakian atau berkemah terlebih dahulu di Selabinta. Berkemah pun tidak akan membuatmu rugi, karena pemandangan di sana akan sedikit menghibur perasaanmu.

Selepas pos pemeriksaan, kamu akan berjalan di track batu yang tertata rapih, menyusuri sebuah sungai dialiri air yang sangat alami dan jernih. Mulai memasuki hutan, kamu bisa mendengar nyanyian dari berbagai jenis burung dan melihat monyet-monyet yang bergelantungan dari dahan pohon yang satu ke dahan lainnya.

Baca juga: pendakian gunung Semeru via Ranu Pani

Berjalan 30 menit akan mengantarkanmu kepada menara pengamat burung. Kemudian, kamu akan sampai di pos Citingar yang berada di ketinggian 1.000 mdpl. Selanjutnya, kamu akan menyusuri track yang dipenuhi pacet, berhati-hatilah, bila perlu olesi kakimu dengan minyak cengkeh. Selain itu, track akan semakin menanjak dan licin karena jalanan berupa tanah gembur yang dilapisi dedaunan yang gugur.

Bisa dikatakan, jalur Selabintana adalah istana pacet, terdapat ratusan, bahkan ribuan pacet yang hidup di dalamnya. Sedikit saran, bila kamu sedang beristirahat, hindarilah duduk di atas pohon tumbang dan tanah lembab, karena pacet sangat suka nongkrong di ke-2 tempat tersebut. Lebih baik berdiri saja sambil melepas rasa lelah. Usahakan juga untuk memakai sepatu gunung yang menutupi mata kaki.

Kemudian kamu akan sampai di pos Citinggir Barat, berada di ketinggian 1.175 mdpl. Selepasnya, jalanan tidak banyak berubah masih berjalan di atas hamparan dedaunan yang licin. Sekitar 3 jam kemudian, jalur akan sedikit landai menuruni punggungan gunung, berbelok dari lintasan sebelumnya yang terkena longsor. Di lintasan baru, jalanan berupa bebatuan yang sengaja disusun dan gerombolan pacet perlahan-lahan mulai menghilang. Berikutnya, kamu akan sampai di pos Cigeber, berada pada ketinggian 1.300 mdpl.

Beranjak dari pos Cigeber, jalanan berupa tanah yang padat, hutan rimbun mulai terbuka, bila sebelumnya langit tertutup oleh kerimbunan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Sekarang, kamu mulai bisa melihat birunya langit. Pinggiran track berupa jurang yang tertutup oleh rerumputan. Kemudian sampailah kita di pos Cileutik yang berada pada ketinggian 1.500 mdpl.

Selanjutnya, dari pos Cileutik, kita turun dan bertemu dengan sebuah sungai, pada sungai tersebut terdapat air terjun pendek. Setelah menyebranginya, track kembali menanjak dan pemandangan kembali berupa hutan rimbun. Jalanan berupa tanah lembab dan lembek. Berjalan sekitar 2 jam, maka kita akan sampai di pos berikutnya.

Pos tersebut berupa area tanah datar yang tidak terlalu luas, dikelilingi oleh pepohonan yang memiliki berbagai bentuk, aneh dan unik. Menimbulkan berbagai fantasi, tergantung orang yang memiliki fantasi tersebut. Menyerupai bentuk apakah pohon-pohon itu.

2 jam perjalanan dari pos tersebut kita akan sampai pada pos berikutnya, pos yang tidak terlalu luas, mungkin hanya mampu menampung 8 orang. Selanjutnya, track semakin membabi buta, menanjak nan terjal, pada beberapa lintasan, kita bisa menggunakan akar sebagai tempat berpegangan. Di depan, jalanan yang ditumbuhi rerumputan tinggi sedang menunggumu.

Baca juga: pendakian gunung Lawu via Cemoro Sewu

Kemudian sampailah kita di pos pertigaan, di sana terdapat persimpangan jalan, jalan ke arah kanan untuk menuju puncak gunung Gumuruh dan arah kiri untuk menuju Alun-Alun Surya Kencana. Tidak jauh dari persimpangan, kita sudah sampai di sebuah lapangan luas, Alun-Alun Surya Kencana dan puncak gunung Gede sudah mulai terlihat. Berjalanlah ke arah kanan, sekitar 15 menit, kamu sudah sampai di Alun-Alun Surya Kencana.

Dari Alun-Alun Surya Kencana, entah mau ke puncak gunung Gede atau ke puncak gunung Pangrango, kamu bisa mengikuti jalur pendakian gunung Gede Pangrango lewat jalur Gunung Putri, untuk pembahasan lebih lanjut mengenai puncak Pangrango, Lembah Mandalawangi, puncak gunung Gede atau Alun-Alun Surya Kencana, kamu bisa membaca tulisan yang berjudul jalur pendakian gunung Gede Pangrango lewat Cibodas.

Demikian adalah pembahasan mengenai pendakian gunung Gede Pangrango lewat jalur Selabintana, semoga bermanfaat untukmu dan selalu jaga kelestarian alam kita untuk anak cucu kita.
Share:

Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Via Cibodas

via cibodas
www.wisatahalimun.co.id

Gunung Gede dan Pangrango adalah 2 gunung populer di kalangan pendaki Indonesia, sangat digandrungi. Hal itu tergambar dari catatan statistik yang menunjukan bahwa ada, kurang lebih, 50.000 pendaki yang menjamahinya pada setiap tahun. Meskipun pendakian gunung Gede Pangrango bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Peraturan yang diterapkan tergolong ketat, sebelum kamu melakukan pendakian di sana, kamu harus melakukan booking online terlebih dahulu, satu bulan sampai 3 hari sebelum tanggal pendakian. Jumlah pendaki pun dibatasi, hanya 600 pendaki pada setiap malamnya, 100 pendaki melalui jalur Selabintana, 200 pendaki lewat jalur Gunung Putri dan 300 di jalur Cibodas. Ditambah, setiap tahunnya, dari bulan Desember sampai bulan Maret, jalur pendakian gunung Gede Pangrango selalu ditutup.

Namun tentu saja, peraturan ini dibuat bukan asal-asalan dan bukan untuk menyulitkanmu. Peraturan ketat ini diterapkan untuk tetap menjaga kelestarian alam di sana, melindungi setiap hewan yang berhabitat di sana. Mungkin, bila peraturan dibuat tidak seketat demikian, jalur pendakian Gede Pangrango akan sesak tanpa celah dan kelestarian di sana bisa saja terancam karena kepadatan pendaki.

Nah, bila kamu sedang mengidam mendaki gunung Gede atau gunung Pangrango lewat jalur Cibodas, maka artikel ini sangat tepat untuk kamu. Sebab, dalam artikel ini kamu akan mengetahui info jalur pendakian gunung Gede Pangrango, lengkap sampai tuntas, khususnya lewat jalur pendakian Cibodas.

Sebelum membahas lebih jauh, mungkin kamu punya pertanyaan, kenapa jalur pendakian gunung Gede dan Pangrango dibahas bersamaan, padahal ke-2 gunung ini jelas berbeda?. Seperti dalam tulisan saya yang berjudul 9 gunung tertinggi di Jawa Barat menjelaskan bahwa, karena sangat berdekatan, maka jalur pendakiannya pun sama. Yaitu;


Rute Perjalanan Menuju Basecamp Cibodas

Mula-mula, kita akan membahas rute perjalanan menuju basecamp Cibodas terlebih dahulu, hal ini penting, tanpa mengetahuinya, mana mungkin kita bisa melakukan pendakian ke sana. Basecamp ini berada pada ketinggian 1.425 mdpl.

Untuk menemukannya, kamu bisa menggunakan bis atau angkutan umum lainnya dengan jurusan Jakarta-Bandung, atau sebaliknya, bila kamu datang dari arah Bandung. Kemudian turunlah di pertigaan Cibodas, dilanjut dengan menggunakan angkutan umum menuju Kebun Raya Cibodas. Di sana kamu bisa melihat tempat parkir luas, jajaran pedagang yang menjajalkan oleh-oleh dan makanan, dan area berkemah yang terletak di dekat kantor Taman Nasional.

Sajian suasana alam sudah mulai terasa, menenangkan dan sejuk, khas rimbunnya pohon di hutan tropis. Namun sayang, kesejukan hutan itu harus berkurang sebab keberadaan lapangan golf yang terbentang hingga arah puncak gunung Pangrango. Membuatnya terlihat gundul dan panas menyengat.


Jalur Pendakian Gunung Pangrango Lewat Jalur Cibodas

Saat di basecamp Cibodas, kamu akan diminta agar menunjukan surat-surat perizinan mendaki dan barang bawaanmu. Bila ketahuan membawa barang-barang dilarang, seperti radio, pisau, odol, sabun, sampo dll, maka barang-barang itu harus kamu serahkan kepada petugas. Begitupun saat keluar dari taman nasional, kamu akan diperiksa lagi, mewajibkanmu memperlihatkan sampah bekas pendakian.

Selepas basecamp, kita akan mendapat sambutan dari jalan setapak berupa bebatuan, pemandangan berupa rimbunnya hutan tropis, diiringi dengan kicauan burung yang silih bergumam dan suara monyet yang seakaan keroncongan meminta makan. Setelah lepas dari kerimbunan hutan, berjalan sekitar 1,5 km, sampailah kita di sebuah telaga bernama Telaga Biru.

Telaga Biru sendiri merupakan sebuah danau yang cukup indah, sayang bila kamu tidak menikmatinya, warna danaunya bisa berubah-ubah karena ulah tanaman Ganggang yang hidup di dasar danau. Telaga ini berada di ketinggian 1.500 mdpl. Untuk melewatinya, kita harus berjalan dengan hati-hati di atas jembatan kayu yang sudah mulai rusak.

Jembatan kayu sepanjang, kurang lebih, 1 km itu akan mengantarkan kita kepada pos Rawa Gayang Agung yang berada di ketinggian 1.600 mdpl. Kemudian setelah berhasil menyebrangi jembatan, track pendakian kembali berupa bebatuan, hingga akhirnya kita sampai di Pos Panyancangan Kuda. Sebuah pos yang berada di ketinggian 1.628 mdpl.

Saat berada di pos Panyancangan Kuda, kamu bisa menemukan sebuah bangunan lengkap dengan atap, menjadikannya tempat favorit bagi para pendaki untuk berlindung dari hujan dan teriknya matahari. Mungkin kamu akan melihat pendaki lain yang mendirikan tenda di dalam bangunan tersebut, menurutku mereka egois, karena dengan mendirikan tenda, tempat bernaung itu akan semakin sempit, menghalangi pendaki lain untuk ikut berlindung.

Di pos ini juga terdapat pertigaan, jalan persimpangan. Jalan ke arah kanan adalah jalan menuju air terjun Cibereum dan jalan lurus adalah jalan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Pangrango. Bila kamu sedang tidak terburu-buru, sempatkanlah untuk menikmati kegagahan alam di air terjun Cibereum.

Untuk memudahkanmu berjalan sampai di air terjun, lebih baik simpan saja carrier dan barang bawaanmu di pos, saling bergantian untuk berjaga barang. Menyusuri track berbatu, sedikit menurun dan terdapat banyak genangan air, sekitar 30 menit, kamu akan sampai di air terjun Cibeurem. Sebuah air terjun yang terdiri dari 3 curug. Yaitu, curug Cigundul, Ciwalen dan curug Cidendeng, berada di ketinggian 1.675 mdpl.

Setelah puas bermain dengan percikan air di air terjun, mari kita lanjutkan perjalanan ini. Berawal dari pertigaan, jalanan mulai memperlihatkan sisi keangkuhannya, berupa jalur berbatu yang terjal, mulai menanjak dan berliku. Gemuruh dari air terjun masih terdengar jelas di sini, membuat kita merasa kecil di hadapan ciptaan tuhan yang lainnya. Mengajarkan kita untuk tidak bersikap sombong.

Bila kamu melewati jalanan ini pada sore atau pagi hari, suara-suara indah yang diperdengarkan oleh nyanyian berbagai jenis burung bisa kamu nikmati. Setelah sampai di ketinggian 1.820 mdpl, maka kita sampai di Pos Batu Kukus. Sebuah tempat dengan bangunan sederhana untuk sekedar beristirahat sambil melepas lelah. Dahulu, bangunan ini memiliki atap yang disangga oleh sebatang kayu besar di tengahnya. Sekarang?, entah atapnya sudah ke mana.

Setelah lelah mulai redup dari pernafasan dan melanjutkan perjalanan. Jalanan kembali menanjak, namun berubah menjadi tanah yang terlihat alami. Kemudian kadar tanjakan menurun drastis, jalur mulai landai dan bonus-bonus turunan sering ditemui, memudahkan kita untuk sampai di pos Pondok Pemandangan yang berada di ketinggian 2.150 mdpl.

Selepas pos ini, kita akan dihadapkan dengan lintasan ekstrim, berupa sebuah lereng curam, berbahaya, licin dan sempit, di bawahnya mengalir air panas yang suhunya mencapai 70°C. Hati-hatilah saat melintasinya. Lebih baik tidak terburu-buru, menunggu, saat ada pendaki lain yang datang dari arah berlawanan, takut tersenggol, terpeleset dan terjadi hal fatal yang tidak diinginkan.

Meskipun banyak pendaki yang berhenti untuk menghangatkan badan di atas lereng tersebut, namun lebih baik kita tidak mengikuti tingkah mereka, karena hal itu bisa menghalangi pendaki lain yang hendak melintas. Tidak lupa, usahakan untuk mengenakan sepatu, karena bila kamu memakai sendal, suhu panas dari air tersebut akan terasa di kulit kaki, seolah menyimpan kaki kita di atas air yang mendidih.

Pada saat musim pendakian, lintasan ekstrim ini akan padat dan mengantri. Sambil menunggu antrian, saya sarankan untuk beristirahat di pos Pondok Pemandangan terlebih dahulu.

Setelah meninggalkan lintasan panas tersebut, dengan berjalan beberapa saat, kita akan sampai di Pos Kandang Batu yang berada di ketinggian 2.220 mdpl. Di pos tersebut terdapat sebuah sungai yang dialiri oleh air hangat. Apa yang bisa kamu lakukan dengan sungai tersebut?.

Tentu saja mandi, menghangatkan tubuh, membantu melancarkan peredaran darah dan merefleksi tubuh, seakan lelah menguap seketika. Tubuh kembali segar. Namun jangan mencemari air sungai tersebut dengan mandi menggunakan sampo dan sabun, karena banyak pendaki lain dan hewan di sana yang menggantungkan kebutuhan air di sungai ini.

Setelah mandi di pemandian air panas, selepas pos Kandang Batu, perjalanan ini akan dihadang oleh sebuah sungai. Bila mendaki di musim hujan, alirannya akan deras dan membuat kita harus berhati-hati saat melewatinya, dan bila mendaki di musim kemarau, kamu bisa meloncati batu-batu yang timbul dari dalam sungai. Tetap hati-hati, jangan sampai salah memilih pijakan.

Kemudian kita akan melewati sebuah area tanah datar yang cukup luas, cukup untuk mendirikan beberapa tenda. Lalu, pada jalanan berikutnya, kita akan kembali mendengar suara gemuruh air terjun yang terlihat di bawah jalur pendakian. Masih di sekitar air terjun, kamu akan menghadapi lintasan sempit dan terjal, sistem mengantri masih diterapkan pada lintasan ini. Setelahnya, jalur akan kembali landai dan bonus-bonus turunan sudah menunggumu di depan. Hingga akhirnya, kamu sampai di Pos Kandang Badak yang berada di ketinggian 2.395 mdpl.

Pos Kandang Badak adalah tempat paling ideal untuk mengisi kembali persediaan air. Karena setelahnya, kamu akan kesusahan menemukan sumber air. Pos ini juga merupakan pos terakhir, sebelum kamu manapaki puncak gunung Pangrango

Bisa dibilang, perjalanan di antara Kandang Badak sampai puncak Pangrango adalah perjalanan sesungguhnya, sadis dan menyiksa, melelahkan dan menanjak, track yang akan menguji persiapan fisik dan mentalmu, ditambah suhu udara akan menurun. Dalam perjalanan, kamu akan menemukan persimpangan, arah kiri untuk puncak gunung Gede dan arah kanan menuju puncak gunung Pangrango.

Kurang lebih, dengan berjalan 3 jam dan berjarak 3 km, dengan melewati hutan yang sangat lebat, kamu sudah sampai di puncak gunung Pangrango.


Puncak Gunung Pangrango atau Puncak Mandalawangi (3.019 mdpl)

Puncak Pangrango sendiri merupakan sebuah area tanah datar yang luas, terdapat sebuah tugu dan bangunan kayu yang sudah rusak, di sela rimbunnya pepohonan yang mengelilingi, kamu bisa mengintip pemandangan gunung Gede dan asap kawahnya yang menyembul.


Lembah Mandalawangi (2.994 mdpl)

Siapa yang tak kenal dengan lembah Mandalawangi, sebuah tempat favorit bagi seorang pecinta alam yang meninggal di puncak Mahameru, yaitu mendiang Soe Hok Gie. Sebuah puisi Soe Hok Gie tentang lembah Mandalawangi menggambarkan keindahannya, berbunyi;


Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti Mandalawangi, kau datang kembali dan bitjara padaku tentang kehampaan semua

Untuk menuju lembah Mandalawangi, dari puncak Pangrango, kamu bisa mengambil track yang berada di sebelah kiri atau arah barat. Jalanannya menurun. Setibanya di sana, kamu akan disambut oleh hamparan bunga Edelweis yang sangat merona. Sebab, Mandalawangi adalah salah satu tempat dari 7 tempat hamparan bunga Edelweis.

Sesekali, sebagian pendaki mendirikan tenda dan bermalam di sini. Sesekali juga, tempat ini adalah tempat yang sangat indah untuk menikmati sunset.


Puncak Gunung Gede (2.958 mdpl)

Dari persimpangan yang telah disebutkan di atas, untuk menuju puncak gunung Gede, kamu harus memilih jalan sebelah kiri. Setelah itu, kamu akan berjalan di punggungan gunung yang terjal, dalam perjalanan, sebuah tanjakan sadis yang bernama tanjakan Setan sudah menunggumu, untuk melewatinya, kamu bisa mengandalkan tali baja yang sudah disiapkan.

Puncak gunung Gede merupakan tempat yang dingin, dipenuhi dengan hembusan angin kencang dan udara lembab, pakailah jaket setebal mungkin. Dalam udara yang sangat dingin, bagi kamu yang belum mengisi perut, rentan sekali sakit. Usahakanlah makan terlebih dahulu sebelum sampai di puncak gunung Gede.

Berbeda dengan puncak Pangrango yang meruncing sempurna, puncak gunung Gede terlihat memanjang. Di sana, kamu bisa menikmati sajian berupa pemandangan kawah gunung Gede yang terdiri dari kawah Wadon dan kawah Ratu. Sesekali, bau menyengat belerang akan menusuk hidungmu. Selain itu, di tebing bibir kawah, hidup sekumpulan bunga Edelweis yang sangat indah.

Alun-Alun Surya Kencana

Bila gunung Pangrango punya Lembah Mandalawangi, gunung Gede pun tak mau kalah, dia punya Alun-Alun Surya Kencana. Sebuah tempat yang dipenuhi dengan bunga-bunga Edelweis, berlatar belakang pemandangan gunung Gemuruh, terdapat tempat luas untuk mendirikan tenda dan di sana, kamu bisa menemukan sumber air yang sangat jernih. Mungkin sejernih cintaku padamu beb.

Demikian adalah informasi jalur pendakian gunung Gede Pangrango lewat jalur Cibodas yang bisa disampaikan oleh penulis lugu dan sederhana ini. Semoga bermanfaat buat kamu yah.
Share:

Search This Blog

Powered by Blogger.

<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <script>      (adsbygoo...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.